///
Sampeyan Sedang MBaca ...
kisah Para Pencari Tuhan, Surat CintaKu

Cinta

Tuhan, beri sinar kepada mereka yang awas matanya.

Tuhan, beri cahaya kepada mereka yang memandang dunia dengan mata terbuka.

Tuhan, kepadaku kirim saja percik kasihMu, tidak untuk membuka mataku, tapi untuk menyiram hatiku.

(“Orang Buta, L.K. Ara penyair asal Aceh”)

Karena sulit menggambarkan dengan apa dan bagaimana caranya mengetahui kesejatian Tuhan, maka yang bisa saya sampaikan hanya cukup dengan kasih saja, cukup dengan cinta saja dan rahmatNya akan mengalir. Kedamaian, ketentraman yang senantiasa dirasakan laksana bayi yang menghentikan tangisnya dalam dekapan Sang Emak. Memandang wajah emaknya dengan sejuta kegembiraan. Jeritannya, kesulitannya tertumpu pada kekuatan tunggal yang terpancar dari sosok Emak. Pengelana padang pasir yang tertipu dengan fatamorgana dan kemudian menemukan oase dengan pancarannya yang bening, bersih dan sejuk. Demikianlah, Allah menciptakan malaikat untuk berkhidmat, jin untuk kekuasaan dan menciptakan para arif untuk cinta.

Pada suatu saat, Tuhan berbisik kepada Musa, dalam keheningan hatinya, “Wahai hamba pilihan-Ku, Aku mencintaimu!” Musa menjawab dengan pertanyaan, “Wahai Sang Maha pemurah, katakan padaku, sifat apa dari diriku yang membuat-Mu mencintaiku, supaya aku dapat senantiasa mempertahankan dan menghiasnya.”

“Kumencintaimu karena engkau seperti anak kecil,” jawab Tuhan, “Anak kecil yang berada dalam naungan ibunya. Meskipun sang ibu mengusirnya, ia tetap bergantung padanya. Untuknya, tak ada orang lain di dunia ini selain sang ibu. Semua sedih dan bahagia hanya bersumber dari ibunya. “Meskipun sang ibu memukulnya, ia tetap memburu dan memeluk ibunya. Ia tak pernah meminta pertolongan selain kepada sang ibu. Ibunyalah sumber segala sesuatu, baik maupun buruk. “Begitu pula hatimu. Dalam suka atau pun duka, ia tak pernah berpaling dari-Ku. Dalam pandanganmu, makhluk lain hanyalah bebatuan dan bongkahan tanah….

Pada suatu hari, ana sawijining dina, once upon time …ada sekelompok orang yang berada di sebuah kebun. Kelompok itu duduk berbincang-bincang sambil menunggu seseorang yang berjanji akan menemuinya hari itu. Rupa-rupanya seseorang yang hendak datang itu sedikit terlambat. Sehingga mereka naik turun bukit melihat-lihat siapa tahu datang dari arah berbeda. Tiba-tiba, mereka menyaksikan ada orang buta berjalan bersama seorang wanita yang sangat cantik. Sekali lagi ..: (“Wanita cantik sekali di Multazam…demikian kata Gus Mus dalam Puisinya.”) Orang buta itu lalu berkata, “engkau perintahkan aku begitu dan begini. Semuanya aku lakukan. Engkau melarangnya, dan aku meninggalkannya. Aku tidak pernah membantahmu. Lalu, sekarang apa lagi yang engkau inginkan?” Wanita cantik sekali itu menjawab :”Aku ingin engkau mati.” Si Buta itu pun berkata, :Baiklah. Aku akan mati.” Lalu ia berbaring dan menutup wajahnya. Lihatlah …si Buta itu tidak bergerak sama sekali. Keadaannya seperti sudah mati. Padahal tidak mungkin dia mati. Sekelompok orang-orang itu berduyun-duyun menghampirinya. Digerak-gerakkan tubuhnya. Ternyata, ia betul-betul telah mati.-

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: